Percaya Walau Tidak Melihat ( 1 ) – Jangan Minder Rohani

Percaya Walau Tidak Melihat ( 1 ) – Jangan Minder Rohani

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” ( Yohanes 20 : 29 )

Kita tidak boleh menuntut Tuhan menyatakan diri sesuai dengan keinginan kita, seperti Thomas yang menghendaki agar dirinya mendapat bukti kebangkitan Tuhan Yesus. Kita harus menghormati Tuhan dengan cara menerima dengan sukacita porsi pengalaman bersama Tuhan yang kita miliki. Selalu ada kecenderungan meragukan keberadaan Tuhan sehingga kita menuntut bukti , bahkan ada orang-orang Kristen yang menantang Tuhan untuk membuktikan bahwa DIA eksis, barulah ia mau percaya. Tindakan seperti ini harus dijauhkan dari kehidupan kita, sebab hal tersebut merupakan sifat tidak hormat kepada Allah. Untuk orang Kristen yang baru sikap tersebut masih bisa ditolerir, tetapi untuk mereka yang sudah lama menjadi orang Kristen, sikap tersebut tidak boleh dilakukan. Seharusnya orang Kristen lama bisa percaya sepenuhnya kepada Tuhan tanpa bukti-bukti lahiriah.

Walaupun kita tidak memiliki pengalaman yang spektakuler dengan Tuhan secara lahiriah atau secara fisik bukan berarti kita tidak diperhatikan oleh Tuhan. Orang yang cacat kaki membutuhkan tongkat penyangga untuk bisa tegak dan berjalan, tetapi orang yang kakinya tidak invalid tidak membutuhkannya. Kita tidak memerlukan ‘tongkat penyangga’ untuk percaya kepada Tuhan. Kita bisa percaya walau tidak melihat. Oleh sebab itu orang percaya yang tidak memiliki pengalaman spektakuler dengan Tuhan tidak perlu rendah diri dan merasa kurang diperhatikan Tuhan. Sebaliknya, mereka yang memiliki pengalaman spektakuler dengan Tuhan tidak boleh meninggikan diri seakan-akan mereka orang VIP Tuhan yang lebih dari orang lain.  Justru orang yang tidak memiliki pengalaman spektakuler adalah orang-orang yang dipercayai Tuhan untuk bisa percaya walau tidak melihat. [ ES ]