Percaya Walau Tidak Melihat ( 2 ) – Tetap Percaya Apapun Kondisinya

Percaya Walau Tidak Melihat ( 2 ) – Tetap Percaya Apapun Kondisinya

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” ( Yohanes 20 : 29 )

Dengan memahami betapa tidak mudahnya mempercayai keberadaan Tuhan dan mengalami-Nya, maka kita bisa mengerti salah langkah Abraham ketika mengambil Hagar menjadi wanita yang diharapkan dapat melahirkan anak untuk Abraham. Sekitar 25 tahun Abraham menunggu anak yang dijanjikan tetapi tidak kunjung hadir, sementara itu Tuhan diam saja seakan-akan Tuhan melupakan janji-Nya akan memberikan anak sebanyak pasir dilaut dan bintang di langit. Keadaan-keadaan seperti inilah yang membuat orang pilihan Tuhan meragukan “ Keaktifan Tuhan “ hadir di tengah-tengah umat-Nya. Ternyata manusia sekaliber Abraham bisa gagal juga. Tentu ini bukan kegagalan total tetapi bagian dari proses penyempurnaan imannya. Akhirnya Abraham berhasil melewati semua ujian sehingga pantas disebut bapa orang percaya.

Keadaan seperti Abraham sering dialami orang percaya yaitu pada saat Tuhan tidak menyatakan diri secara khusus kepada mereka. Bertahun-tahun rasanya Tuhan tidak menyatakan diri dalam suatu penampakan, penglihatan atau mimpi-mimpi. Mereka merasa seakan-akan Tuhan tidak terlalu serius berurusan dengan mereka.

Akibatnya mereka tidak memberi porsi yang pantas untuk mencari dan mengalami Tuhan . Banyak orang Kristen yang ala kadarnya saja dalam memburu Tuhan sehingga tidak terbangun sikap optimisme untuk memiliki pengalaman secara riil dengan Tuhan, Sikap pesimisme ini bisa berkembang sampai sikap apatis sehingga mereka menjadi orang Kristen yang hanya pergi ke gereja setahun sekali sampai akhirnya tidak pernah ke gereja lagi. Orang-orang seperti ini mudah menyangkal iman Kristennya. Perkara-perkara sepele dapat dengan mudah membuat mereka berkhianat terhadap Tuhan.

Tuhan tidak menginginkan kita serius dengan DIA hanya karena kita telah atau ingin memiliki pengalaman yang spektakuler . kita harus sungguh-sungguh serius berhubungan dengan Tuhan walau tidak memiliki pengalaman spektakuler . Segala sesuatu yang dikemukakan oleh Alkitab mengenai Tuhan sudah cukup bahkan lebih dari cukup untuk menjadi landaan mencari Tuhan.

Dengan demikian orang percaya harus serius berhubungan dengan Tuhan karena firman yang tertulis didalam Alkitab dan bukan hanya karena perbuatan Tuhan yang spektakuler. [ES]